Strategi Pasar Giant dan Matahari Dimasa Pandemi

haafa

Strategi Pasar Giant dan Matahari Dimasa Pandemi

Strategi pasar giant dan matahari dimasa pandemi. Matahari departement store menutup puluhan gerainya bertubi-tubi dalam beberapa tahun belakangan ini. Giant seolah nggak mau kalah bahkan memutuskan untuk menutup semua gerainya di bulan Juli 2012 satu ini.

Apa yang terjadi dan strategi pasar apa yang mau mereka siapkan untuk menghadapi pandemi ?

Strategi Pasar Giant dan Matahari Dimasa Pandemi
Strategi Pasar Giant dan Matahari Dimasa Pandemi

Sejarah singkat Giant dan Matahari

Jaringan supermarket Giant berasal dari Negeri Jiran Malaysia Giant pertama kali berdiri pada tahun 1944. Pendirinya adalah Masteng dan setelah sukses di Negeri Jiran Giant mulai berekspansi ke luar negeri.

Di Indonesia Giant menggandeng Mitra lokal yaitu pengusahan nasional MS Kurnia yang memiliki PT Hero supermarket Tbk Hero membuka Giant pertama di Villa Melati Tangerang.

Pada tahun 2002 dan pada tahun-tahun awalnya di Indonesia Giant menjadi andalan untuk menggenjot pendapatan sekaligus menyanyi Carrefour yang cukup mendominasi pasar ritel modern pada saat itu.

Di masa kejayaannya Giant memiliki hingga 100 gerai di berbagai kota di Indonesia, dengan jumlah karyawan mencapai 14.000 orang. Sementara Matahari departement store memiliki sejarah panjang di dalam dunia ritel di Indonesia pada tahun 1958.

Di usianya yang ke-18 membuka toko fashion anak di daerah Pasar Baru Jakarta toko yang kemudian diberi nama Matahari. Kemudian berkembang menjadi Matahari Departemen Store modern pertama.

Matahari pun terus bertumbuh hingga memiliki 169 gerai di tahun 2019 yang tersebar di 76 kota di seluruh Indonesia luasnya hampir satu juta M2. Secara total matahari memperkerjakan 40.000 karyawan dan bermitra dengan sekitar 700 pemasok lokal dan internasional.

Perubahan pasar Giant dan Matahari

Namun kemudian, Angin perubahan mulai berhembus kencang pelanggan mulai berhenti mendatangi gerai-gerai Giant. Akibatnya pada 2015 Hero mengumumkan penutupan 75 giant di berbagai daerah.

Kemudian di 2018 penutupan giant kembali dilakukan hingga jumlahnya menciut menjadi 142 gerai pada Juli 2019, dan kembali menutup sejumlah gerai dan pada tahun 2020.

Perusahaan berkode emiten Hero itu melaporkan penurunan pendapatan dari 12,2 triliun pada tahun 2011 menjadi 8,9 triliun di tahun 2020. Hero juga melaporkan kerugian sebesar 1,2 triliun, angka kerugian yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu 33,2 milyar.

Pada tanggal 25 Jun 2012 satu Direktur Utama PT Hero supermarket Patrick Lindvall mengumkan akan menutup semua gerai Giant bulan Juli 2012. Mataharipun mulai menutup sebagian gerainya walaupun disaat yang sama juga membuka gerai baru di lokasi yang dinilai memiliki potensi penjualan yang baik.

Hadirnya pandemic covid 19 semakin memukul kinerja bisnis matahari, di tahun 2020 lalu matahari menutup 25 gerai dan menambah tiga gerai baru Jadi totalnya jadi 147 gerai.

Pada Kuartal pertama tahun 2021 ini matahari mengumkan ada 23 gerai dalam pemantauan yang mana 13 diantaranya akan ditutup. Emiten ritel milik grup Lippo Ini mencatatkan rugi bersih sebesar 823 miliar sepanjang tahun 2020.

Kondisi ini berbalik dari tahun 2019 ketika matahari masih mencetak laba bersih 1,34 triliun sementara rugi bersih yang meningkat menjadi 95 miliar.

Kalau seandainya Anda adalah CEO yang bertanggung jawab atas nasib Giant dan Matahari Bagaimana anda akan bereaksi ?

Apa yang seharusnya dilakukan ?

Pertama-tama Anda harus menerima kenyataan pahit bahwa industri ritel udah berubah. Steve Denis dalam bukunya berjudul remarkable ritel menyebutkan Bagaimana layanan e-commerce yang semakin nyaman dan aman mulai jadi pilihan masyarakat.

Dan disaat yang sama proses produksi menjadi lebih mudah siapapun bisa memproduksi apapun kapanpun dan dijual gimana saja.

Masyarakat pun memiliki beragam pilihan produk yang melimpah yang mereka bisa akses dan beli dengan sangat mudah dimanapun dan juga kapanpun. Brand yang dulu bisa mendikte bagaimana pelanggan membeli menggunakan dan merekomendasikan produknya kini kehilangan kekuatan itu.

Saat ini nasib brand bukan lagi penentu, pelanggan setiap waktu bisa menekan tombol kebangkrutan brand dilayar HP mereka. Dalam situasi seperti ini para retailer yang biasa-biasa aja dan lambat beradaptasi terhadap perubahan minat dan kebiasaan pelanggan akan terlibat habis.

Kondisi tersebut tentu saja diperparah oleh pandemic covid 19 yang telah mengakselerasi perubahan perilaku masyarakat.

Pengamat retail sekaligus staf ahli himpunan ritail dan penyewa pusat perbelanjaan Indonesia Board Expert for APINDO, KADIN & HIPPINDO yongky Susilo mencatat bahwa format Hypermarket telah menderita.

Pengelola kurang pandai untuk membuat pengalaman belanja menjadi lebih menarik begitu katanya.

Direktur Utama PT Hero supermarket Tbk PT Info punya pandangan yang berbeda kata dia sebenarnya manajemen telah melakukan sejumlah upaya untuk mempertahankan Giant lewat perbaikan gerai dan peningkatan kualitas produk agar dapat menggaet pelanggan.

Tapi tren perubahan perilaku konsumen itu berubah semakin cepat, dan pada masa ini perubahan perilaku yang dimaksud pabrik itu adalah kecenderungan masyarakat untuk memilih berbelanja di gerai yang lebih kecil dan lebih dekat dari tempat tinggal mereka dibandingkan kalau mereka harus mendatangi Hypermarket yang cenderung lebih jauh.

Selain itu perkembangan teknologi juga semakin ah perilaku masyarakat yang sudah semakin terbiasa dengan belanja online. Pandangan Patrick itu selaras dengan temuan di Xtrans Global retail industry 21 yang menyebutkan bahwa retailer semakin bergerak ke arah online lebih dari sepertiganya kini menjual mayoritas produk dan layanan mereka secara online.

Sementara hampir dua pertiga percaya bahwa penjualan offline dan online akan semakin menyatu. Riset sementara belanja kebutuhan sehari-hari secara online yang diantar ke rumah naik 50% sebanyak 50 enam persen pelanggan Berencana untuk meneruskan gaya belanja seperti itu.

Bahkan setelah Pandemi berakhir di Indonesia pergerakan gaya belanja kearah online, juga terlihat data Kuartal pertama 2021 satu dari asosiasi pengusaha ritel Indonesia Aprindo menyebutkan bahwa penjualan online dari industri ritel mengalami peningkatan hingga 15% walaupun hanya memberikan kontribusi kurang dari delapan persennya.

Atas total penjualan ritel di Indonesia, nah sama seperti tren yang terlihat di Hypermart ke pelanggan transport juga cenderung memilih gerai-gerai kecil yang dekat dengan rumah mereka riset menyebutkan dibulan April 2021 hanya sepertiga dari pelanggan di Amerika yang ingin kembali belanja di shopee mall.

Hal ini tentu saja memaksa para pelaku ritel untuk berinovasi secara radikal perubahan perilaku konsumen yang terjadi.

Langkah jitu Giant dan Matahari menghadapi perubahan pasar

Hal ini pulalah yang mendorong PT Hero supermarket untuk menutup semua gerai Giant di bulan Juli tahun 2021. Beberapa freestyle besar lain seperti wal-mart di Amerika Serikat Carrefour yang asal Perancis dan Tesco yang asal Inggris itu sudah lebih dulu menjauh dari bisnis Hypermarket.

PT Hero supermarket memutuskan untuk fokus pada gerai gerai supermarket yang lebih kecil serta menambah gerai gerai baru pada sektor yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Strategi untuk mengubah Giant sebagai Hypermarket menjadi gerai-gerai supermarket kecil itu ternyata sangat beralasan. Bisnis minimarket dan supermarket Mandiri skala lokal tumbuh pesat dan menjamur di berbagai kota dan kabupaten di seluruh Indonesia.

Mereka dengan minimarket branded jaringan nasional yang sudah dikenal dan mempunyai pelanggan loyal seperti Indomaret Alfamart dan Alfamidi.

Terkait dengan penambahan gerai baru PT Hero supermarket meyakini sektor yang berpotensi itu adalah sektor peralatan rumah tangga kesehatan dan kecantikan serta keperluan sehari-hari untuk kelas atas.

Semasa pandemic pasar terbelah Jadi dua yaitu pasar kelas bawah dan pasar kelas atas sementara pasar kelas menengah itu semakin mengecil.

Selama pandemic keberhasilan bisnis ritel seringkali ditemukan pada pasar di kedua ujung spektrum ini baik di pasar kelas bawah yaitu mass-market atau di pasar kelas atas yang premium.

Menyadari pergeseran perilaku belanja konsumen manajemen Matahari menseriusi penjualan online khususnya dengan menerapkan strategi mataharimall.com yang sebelumnya merupakan sebuah bisnis marketplace.

Ditransformasi menjadi matahari.com yang berperan sebagai kanal penjualan online dari semua produk-produk Matahari Department Store. Matahari juga meluncurkan layanan online chat-an shop serta Hypermart online

Matahari meyakini bahwa setelah pandemi berakhir nanti strategi ritel yang mengkombinasikan kan online dan offline itu akan tetap menjadi pilihan masyarakat. Selain itu matahari juga menjalin kerjasama penjualan online seperti Tokopedia dan jd-id.

Pada bulan November 2021 matahari membeli 728 juta lembar saham bank nobu senilai 550 miliar aksi itu diakui oleh manajemen sebagai bagian dari keseriusan matahari dalam mengembangkan pengalaman belanja online.

Hingga saat ini tidak ada yang bisa memastikan Apakah PT Hero supermarket dan matahari sudah mengambil langkah yang tepat. Namun ada beberapa kisah sukses yang mungkin bisa jadi penyemangat mereka saat mengeksplorasi lorong-lorong labirinnya di Indonesia.

Sudah cukup banyak toko ritel offline yang berhasil going online diantaranya adalah Freshmart CEO Freshmart Endi Sumual menjelaskan bahwa ditengah pandemi toko online dapat menjadi strategi untuk bisa bertahan.

Freshmart tidak hanya bekerjasama dengan i-comemerce seperti Shopee dan Tokopedia namun juga berjualan di WhatsApp chat karena dianggap bisa lebih cepat, dan dapat diantar menggunakan gojek ataupun grab.

Terkait strategi memperbanyak gerai-gerai kecil sepertinya data pertumbuhan Alfamart dan Indomaret di tahun 2020 ini menambah kepercayaan diri Matahari.

Alfamart menambah 1004 gerai sepanjang 2020 sementara Indomaret tercatat menambah 614 gerai sepanjang 2020 kedua retail itu meyakini bahwa peluang ekspansi masih besar selain lokasinya yang dekat dengan masyarakat minimarket dan supermarket lokal itu biasanya lebih adaptif.

Mereka membaca data penjualan setiap hari kemudian mengantisipasi dengan beragam program marketing yang cepat dan tepat.